Darelfikr.id, Depok – Puluhan santri Pondok Pesantren Daar Al Fikr, Bojongsari, Depok, mengikuti workshop penulisan kreatif di aula lantai 3 pondok pada Minggu (19/4). Acara yang dimulai pukul 10.00 WIB ini merupakan kerja sama antara pihak pondok dengan jejaring Dunia Santri.
Fahri Gunawan, selaku pelaksana acara, membuka kegiatan dengan mengutip pesan dari Pramoedya Ananta Toer. Ia mengingatkan para santri bahwa sepintar apa pun seseorang, jika tidak menulis, maka ia akan hilang dari sejarah. Karena menurutnya, menulis adalah cara untuk bekerja bagi keabadian.
Pengasuh pondok, Kiai Hadi Hadiatullah, juga ikut memberikan sambutan. Beliau menekankan bahwa selama ini banyak orang yang pandai bicara, dakwah, atau diskusi, tapi masih sedikit yang bisa menulis dengan baik.
“Lewat workshop ini, saya berharap santri di sini punya kemampuan menulis, bahkan bisa jadi penulis hebat. Itu pasti akan membanggakan pesantren,” kata Kiai Hadi.
Dalam acara ini, materi pertama tentang teknik menulis cerpen disampaikan oleh Hilmi Faiq, redaktur harian Kompas. Ia menjelaskan banyak hal, mulai dari cara mencari ide, menyusun cerita secara rapi, sampai tips bagaimana cara mengatasi macet saat sedang menulis.
Setelah itu, materi dilanjutkan oleh Beni Satria yang membahas tentang puisi. Menurut Beni, menulis puisi itu sebenarnya mirip dengan menulis cerpen, tapi bentuknya lebih padat dan ringkas. Ia menyebut puisi sebagai “sari pati” dari sebuah cerita.
Beni berpesan agar santri tidak perlu bingung saat memulai. Kuncinya adalah terus latihan dengan cara menulis apa saja yang ada di pikiran, baru kemudian pelan-pelan diperbaiki bentuknya.
Menariknya, kegiatan ini tidak berhenti sampai di sini saja. Para santri akan terus dibimbing oleh narasumber setiap dua minggu sekali sampai karya mereka benar-benar layak untuk diterbitkan.
Workshop ini sendiri merupakan pembuka dari rangkaian Festival Dunia Santri 2026 yang akan berlangsung sampai Oktober nanti. Selain workshop, kedepannya akan ada acara lain seperti diskusi buku, pertunjukan drama, lomba menulis, hingga program mondok menulis (residensi) bagi santri di beberapa kota di Indonesia. (AR/Adm)














