Haji Sebagai Revolusi Jiwa

(Sumber: Pinterest/رجاء ربي)
banner 468x60

Lebih dari Sekadar Ritual Tahunan

Bagi jutaan umat Muslim di seluruh dunia, Haji adalah salah satu dari lima Rukun Islam. Sebuah kewajiban suci yang dilakukan setidaknya sekali seumur hidup bagi mereka yang mampu. Namun bagi Ali Syariati, Haji bukan sekadar perjalanan fisik ke Makkah. Ia adalah sebuah drama kosmik, sebuah narasi agung tentang manusia, kebebasan, dan perlawanan terhadap segala bentuk penghambaan selain kepada Allah.

Syariati membongkar ritual-ritual Haji dari selubung formalitas dan rutinitas, lalu menyingkapkan lapisan-lapisan makna filosofis, sosiologis, dan teologis yang tersembunyi di dalamnya. Dalam pandangannya, setiap langkah dalam ibadah Haji menyimpan pesan revolusioner bagi umat manusia.

“Haji adalah simfoni kemanusiaan. Ia adalah drama tentang penciptaan, pengorbanan, dan kebangkitan — sebuah perjalanan dari diri yang terasing menuju diri yang utuh.”

Ali Syari’ati, Al-Hajj.

Diterbitkan pertama kali dalam bahasa Persia pada tahun 1970-an, karya Syariati tentang Haji menjadi salah satu teks keislaman paling berpengaruh di abad ke-20. Ia menggabungkan wawasan sosiologi Barat terutama pemikiran Sartre, Fanon, dan Marx dengan kedalaman spiritualitas Islam menghasilkan sebuah tafsir yang segar, kritis, dan menggugah.

Siapa Ali Syariati?

Lahir: Mazinan, Iran, 1933 Wafat: Southampton, Inggris, 1977.

Ali Syariati adalah seorang intelektual, sosiolog, dan filsuf Islam asal Iran yang hidup di era penuh gejolak. Ia meraih gelar doktor di bidang sosiologi dan sejarah agama dari Universitas Sorbonne, Paris, di mana ia banyak bersentuhan dengan pemikiran eksistensialisme dan gerakan antikolonialisme.

Kembali ke Iran, Syariati menjadi dosen yang luar biasa produktif dan berpengaruh. Ceramah-ceramahnya di Husainiyyah Irsyad, Teheran, menarik ribuan anak muda Iran yang haus akan sintesis antara Islam dan modernitas. Ia dipenjara oleh rezim Syah Pahlavi dan meninggal dalam keadaan misterius dan banyak yang menduga dibunuh oleh SAVAK, dinas rahasia Iran.

Bagi generasi muda Muslim dunia, Syariati adalah simbol intelektual yang berani menggabungkan iman dengan kesadaran kritis terhadap realitas sosial dan politik.

Makna di Balik Setiap Ritual

Syariati menafsirkan setiap ritual Haji sebagai simbol yang menyampaikan pesan universal tentang kemanusiaan, kebebasan, dan tauhid. Berikut adalah enam ritual utama beserta penafsiran mendalam darinya:

Ihram — Kesetaraan Mutlak

Memakai pakaian ihram berwarna putih tanpa jahitan adalah penghapusan seluruh identitas sosial tidak ada raja, tidak ada rakyat jelata. Semua manusia kembali ke fitrah asalnya: hamba Allah yang setara. Ini adalah deklarasi anti-diskriminasi terkeras dalam sejarah peradaban.

Tawaf — Manusia dalam Orbit Ilahi

Berputar mengelilingi Ka’bah tujuh kali melambangkan manusia yang menempatkan Allah, bukan hawa nafsu, materi, atau kekuasaan, sebagai pusat gravitasi hidupnya. Manusia bergerak dalam orbit tauhid, bukan orbit ego.

Sa’i — Perjuangan Hajar

Berlari-lari kecil antara Safa dan Marwa mengenang perjuangan Hajar mencari air untuk anaknya, Ismail. Bagi Syariati, ini adalah simbol perjuangan kaum tertindas, upaya tanpa henti dari mereka yang tidak memiliki apa-apa kecuali tekad dan kepercayaan kepada Allah.

Wukuf di Arafah — Kesadaran Diri

Berdiam di Padang Arafah adalah momen refleksi total. “Arafa” berasal dari kata “irfan” (pengenalan). Syariati menafsirkannya sebagai momen manusia mengenali dirinya, asal-usulnya, dan tujuan hidupnya sebuah eksistensialisme Islam yang mendalam.

Melontar Jumrah — Melawan Iblis

Melempar batu ke tiga tugu melambangkan penolakan total terhadap syaitan yang bukan hanya iblis metafisik, melainkan segala bentuk tirani, imperialisme, dan keserakahan yang menindas manusia. Ini adalah deklarasi perang spiritual sekaligus sosial.

Kurban — Kebebasan dari Kelekatan

Kisah Nabi Ibrahim menyembelih Nabi Ismail ditafsirkan Syariati bukan sebagai tindakan kekerasan, melainkan sebagai kebebasan manusia dari kelekatan duniawi yang paling besar sekalipun bahkan terhadap buah hati sendiri. Hanya dengan melepas yang paling dicintai, manusia merdeka sejati.

Tiga Pilar Teologi Haji Syariati

Tauhid sebagai Ideologi Pembebasan

Dalam pandangan Syariati, tauhid adalah “keyakinan bahwa hanya Allah yang Maha Esa” bukan hanya pernyataan teologis, melainkan ideologi revolusioner. Menyatakan “La ilaha illallah” berarti menolak segala bentuk tuhan-tuhan palsu: kekuasaan politik yang sewenang-wenang, sistem ekonomi yang mengeksploitasi, dan budaya yang memperbudak manusia pada hedonisme.

Haji adalah momen di mana tauhid dihidupi secara kolektif. Jutaan manusia dari berbagai bangsa berdiri bersama, menolak segala hierarki selain hierarki iman dan ketaqwaan. Inilah yang membuat Haji menjadi peristiwa yang paling egaliter dalam sejarah umat manusia.

Manusia Sebagai Khalifah yang Bebas

Syariati menolak pandangan bahwa Islam mengajarkan fatalisme pasif. Sebaliknya, ia menegaskan bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah wakil Tuhan di bumi yang memiliki kehendak bebas dan tanggung jawab moral. Haji mengajarkan bahwa kebebasan ini adalah amanah yang harus diemban dengan sadar.

Perjalanan Nabi Ibrahim dan Siti Hajar adalah kisah tentang manusia yang memilih jalan iman meski harus berhadapan dengan hal tersulit. Ini bukan kepasrahan buta, melainkan pilihan sadar yang lahir dari pemahaman mendalam tentang tujuan eksistensi.

Ummah — Komunitas Tanpa Batas Negara

Bagi Syariati, Haji juga adalah pernyataan tentang Ummah komunitas Muslim global yang melampaui batas-batas bangsa, suku, dan kelas. Ketika manusia dari Nigeria, Indonesia, Turki, dan berbagai negara lainnya berdiri bersama di Arafah, mereka mewujudkan visi Islam tentang persaudaraan universal.

Ini bukan nasionalisme, bukan tribalisme, melainkan humanisme spiritual yang didasarkan pada iman bersama. Syariati melihat potensi revolusioner dalam kesatuan Ummah ini Adalah sebuah kekuatan yang jika dibangkitkan, dapat mengubah tatanan dunia yang adil.

“Kamu pergi ke Haji bukan untuk mengunjungi sebuah tempat. Kamu pergi untuk menjadi seseorang yang berbeda saat kamu kembali.”

Ali Syari’ati, Al-Hajj.

Mengapa Pemikiran Ini Masih Relevan?

Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi oleh nasionalisme sempit, konsumerisme yang rakus, dan ketimpangan sosial yang menjamur. Tafsir Syariati atas Haji terasa semakin mendesak. Ia mengingatkan bahwa Islam datang bukan untuk mengabsahkan status quo, melainkan untuk menantang setiap bentuk penindasan.

Pemikiran Syariati juga relevan bagi generasi Muslim modern yang bergulat dengan pertanyaan identitas: bagaimana menjadi Muslim yang taat sekaligus warga dunia yang kritis? Jawabannya, bagi Syariati, ada dalam Haji yaitu sebuah sekolah tahunan tempat manusia belajar kembali menjadi manusia seutuhnya.

Tentu, pemikiran Syariati tidak tanpa kritik. Beberapa ulama tradisional menganggap tafsirnya terlalu politis dan dipengaruhi ideologi Barat. Namun justru ketegangan itulah yang membuatnya tetap hidup dan diperdebatkan serta merupakan tanda bahwa ia menyentuh sesuatu yang fundamental dalam jiwa umat Islam.

Pada akhirnya, Ali Syariati mengundang kita untuk melakukan Haji bukan hanya dengan kaki dan tubuh, tetapi dengan seluruh kesadaran dan jiwa kita. Haji yang sejati, baginya, bukan yang menghasilkan sertifikat “Haji” di belakang nama, melainkan yang menghasilkan transformasi yang signifikan dalam cara kita memandang diri sendiri, sesama, dan Tuhan.

Penulis: Luthfi Azhari, Santri Pondok Pesantren Dar eL-Fikr.

 

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *